SATU MESIN SEJUTA MANFAAT

Dapatkan kesehatan menyeluruh dengan air kangen. Ganti air minum anda dengan air kangen sekarang juga!

Miliki Segera

PENGANTAR

Sering sekali saya mendapat pertanyaan seputar manfaat air alkali pada penyakit infeksi, baik di grup Whatsapp ERW Karawang maupun di grup Whatsapp Alumni Workshop Air Alkali.

Pertanyaannya juga sangat bervariasi.

Mulai penyakit infeksi yang sifatnya akut (demam berdarah, infeksi saluran nafas, demam typhoid, infeksi virus atau viral exanthema, muntaber, infeksi saluran kencing, dll);

Manfaatnya pada berbagai infeksi kronis (tuberkulosis paru dan organ lain, infeksi saluran kencing kronis, keputihan berulang, dll).

Atau sekedar bertanya adakah efek air alkali dalam meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi.

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga tulisan ini. Semoga bisa menjawab berbagai permasalahan seputar manfaat air alkali dan infeksi, terutama dasar-dasar penelitian ilmiah mengenai air alkali di bidang infeksi.

BATASAN & DEFINISI

Berikut uraian singkat namun padat dari Mayo Clinic tentang batasan dari penyakit infeksi.

Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, mulai bakteri, virus, jamur, atau parasit.

Berbagai organisme hidup di tubuh kita, yang biasanya tidak berbahaya atau malah bermanfaat, namun pada kondisi tertentu, organisme-organisme tadi dapat menyebabkan berbagai penyakit. Penyakit infeksi juga dapat diperoleh dari orang ke orang, ditransmisikan melalui serangga atau hewan tertentu.

Beberapa penyakit infeksi lain diperoleh melalui mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi mikroorganisme dari lingkungan.

Gejala penyakit infeksi bervariasi, namun biasanya demam (peningkatan suhu tubuh) dan badan menjadi lesu. Infeksi yang ringan kadang hanya membutuhkan istirahat dan obat-obat simtomatik; namun infeksi berat dapat mengancam jiwa dan kadang membutuhkan perawatan di ruang intensif.

PENELITIAN AIR ALKALI DI BIDANG INFEKSI

Berikut beberapa penelitian tentang manfaat air alkali pada kondisi infeksi akut maupun kronis, peradangan, serta fungsi air alkali dalam meningkatkan daya tahan tubuh.

(Karena dihasilkan melalui proses elektrolisis, air alkali dikenal sebagai Electrolyzed Reduced Water (ERW), dan disebut juga sebagai Hydrogen Rich Water (HRW) karena mengandung banyak ion hidrogen yang memiliki salah satu fungsi sebagai antioksidan.

Khusus untuk tulisan ini, manfaat air alkali dalam melawan penyakit infeksi demi kemudahan dikelompokkan menjadi beberapa manfaat utama, yaitu:

1. Manfaat langsung pada proses infeksi
2. Manfaat dalam meningkatkan daya tahan tubuh
3. Manfaat dalam menekan proses peradangan
4. Manfaat asam kuat dari mesin elektrolisis untuk penyakit infeksi

PENELITIAN KE-1 (Manfaat Langsung pada Infeksi)
GAS HIDROGEN MEMILIKI POTENSI TERAPI YANG MENJANJIKAN UNTUK KONDISI SEPSIS

Biomed Res Int. 2014. Xie K et al. Hydrogen gas presents a promising therapeutic strategy for sepsis.

Sepsis ditandai dengan respon inflamasi yang berat terhadap infeksi, dan merupakan penyebab utama angka kesakitan dan kematian pada pasien kritis. Berbagai penelitian yang kami publikasikan menunjukkan bahwa molekul hidrogen dapat memperbaiki lama hidup dan mengurangi kerusakan organ pada tikus percobaan dengan infeksi yang berat dan luas ini. Mekanismenya berhubungan dengan regulasi stres oksidatif, respon inflamasi, dan apoptosis (bunuh diri sel). Penelitian ini membahas perkembangan terbaru penggunaan molekul hidrogen pada sepsis.

PENELITIAN KE-2 (Manfaat Langsung pada Infeksi)
EFEK TERAPI CAIRAN KAYA HIDROGEN PADA SEPSIS POLIMIKROBIAL

Journal of Surgical Research, 2013. Li, GM et al. Effects of hydrogen-rich saline treatment on polymicrobial sepsis.

Penelitian ini bertujuan meneliti hipotesis apakah HRW (air kaya hidrogen) dapat memperbaiki gangguan organ pada model binatang percobaan dengan sepsis polimikrobial.

Catatan: Sepsis adalah infeksi berat yang telah menyerang ke seluruh tubuh. Disebut sepsis polimikrobial bila infeksi berat dan luas ini disebabkan lebih dari 1 kuman patogen.

Hasil & Kesimpulan:
1. Pemberian ERW secara signifikan menurunkan kadar serum proinflamasi, memperbaiki fungsi liver dan fungsi ginjal, menurunkan total skor histologis kerusakan jaringan akibat sepsis, dan meningkatkan kadar antibodi serta kadar antioksidan.
2. HRW memiliki potensi efek proteksi terhadap sepsis dengan cara menurunkan respon proinflamasi, stres oksidatif, dan apoptosis (bunuh diri sel) pada tikus percobaan dengan sepsis polimikrobial.

PENELITIAN KE-3 (Manfaat Langsung pada Infeksi)
EFEK PROTEKSI DARI AIR KAYA HIDROGEN PADA NEONATUS DENGAN ENTEROKOLITIS NEKROTIKANS PADA TIKUS PERCOBAAN

J Pediatr Surg. 2013. Sheng Q et al. Protective effects of hydrogen-rich saline on necrotizing enterocolitis (NEC) in neonatal rats.

Catatan: NEC (Necrotizing enterocolitis) adalah penyakit berbahaya, yang sering menyerang bayi prematur. Pada penyakit ini, terjadi kerusakan jaringan usus akibat gangguan aliran darah ke usus pada saat proses persalinan, dikombinasi dengan pertumbuhan pesat bakteri yang menginvasi dinding saluran cerna.

Penelitian bertujuan untuk menguji hipotesis apakah air kaya hidrogen (HRW) memiliki efek perlindungan terhadap berkembangnya enterokolitis nekrotikans pada tikus percobaan yang baru lahir (neonatus, bayi usia di bawah 30 hari).

Hasil & Kesimpulan:
1. Pemberian ERW terbukti dapat mempertahankan berat badan, dan menurunkan kejadian NEC dari 85% menjadi 55%, meningkatkan survival rate dari 25% menjadi 68%, dan mengurangi keparahan dari NEC. HRW juga menghambat ekspresi mediator pro-inflamasi dan meningkatkan kapasitas total antioksidan .
2. HRW menunjukkan efek yang bermanfaat pada tikus neonatus yang menderita NEC, dengan cara menurunkan stres oksidatif, meningkatkan kapasitas antioksidan, menekan inflamasi/peradangan, dan memelihara integritas mukosa usus.

PENELITIAN KE-4 (Meningkatkan Daya Tahan Tubuh)
EFEK IMUNOLOGIS ERW PADA INFEKSI ECHINOSTOMA HORTENSE PADA TIKUS C57BL/6.

Biol Pharm Bull, 2009. Lee, K.J., et al. The immunological effects of electrolyzed reduced water on the Echinostoma hortense infection in C57BL/6 mice.

ERW telah digunakan secara luas sebagai air minum oleh masyarakat benua Asia. Penelitian ini bertujuan meneliti efek imunologis ERW pada imunitas hewan percobaan, dengan memberikan ERW kepada tikus yang terinfeksi dengan parasit jenis cacing Echinostoma.

Hasil & Kesimpulan:
1. Pemberian ERW pada tikus normal (yang tidak mendapat infeksi cacing) terbukti meningkatkan respon daya tahan tubuh di usus halus tikus normal dibanding tikus normal yang tidak mendapat ERW (peningkatan interleukin, tumor necrosis factor, dan Immunoglobulin).
2. Pada kelompok tikus yang diinfeksi parasit, grup yang mendapat ERW terbukti mengalami peningkatan kadar antibodi, peningkatan kadar sel goblet usus halus, dan sel-sel helix pomatia dibandingkan grup yang tidak mendapat ERW.
3. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian ERW dapat meningkatkan respon imun lokal di usus halus, namun belum sampai tingkat respon imun sistemik (terdapat peningkatan hampir semua kadar antibodi di jaringan limpa, namun belum bermakna secara statistik).

PENELITIAN KE-5 (Meningkatkan Daya Tahan Tubuh)
STIMULASI SELEKTIF PERTUMBUHAN MIKROFLORA ANAEROB DI SALURAN CERNA MANUSIA OLEH ELECTROLYZED REDUCING WATER (ERW)

Med Hypotheses. 2005. Vorobjeva NV. Selective stimulation of the growth of anaerobic microflora in the human intestinal tract by electrolyzed reducing water.

Sekitar 96-99% mikroflora “baik” di usus halus manusia terdiri dari kuman anaerob, dan hanya 1-4% saja yang aerob. Banyak penyakit di saluran cerna yang terjadi akibat gangguan keseimbangan mikroorganisme ini, sehingga upaya terapi harus mampu memulihkan baik jumlah maupun keseimbangannya. Diketahui bahwa kuman aerob membutuhkan potensi reduksi oksidasi (ORP, oxidation-reduction potentials) yang positif (di atas +400), sementara kuman anaerob hanya bisa tumbuh pada ORP yang negatif (-300 dan -400 mV).

Hasil & Kesimpulan:
1. Studi ini menunjukkan bahwa syarat pemulihan dan pemeliharaan mikroorganisme anaerob membutuhkan lingkungan nilai ORP saluran cerna yang negatif. ERW yang memiliki ORP antara 0 s/d -300 mV dan diproduksi mesin elektrolisis, sehingga konsumsi cairan ini dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme anaerob saluran cerna.
2. Banyak sekali data ilmiah yang mendukung mekanisme ini, baik aksi ERW melalui efeknya sebagai antioksidan yang mampu mendetoksifikasi radikal bebas di usus halus, maupun efek utama dari ERW langsung terhadap mikroorganisme saluran cerna.

Catatan:
Peran flora normal usus sangat penting dalam pertahanan tubuh terhadap saluran cerna, seperti dikutip dari penelitian yang dimuat di Clinical & Translational Immunology (2017), Like WJ et al. Embracing the gut microbiota: the new frontier for inflammatory and infectious diseases:

“Mikroflora usus menyediakan sinyal-sinyal kritis dalam perkembangan dan fungsi dari sistem pertahanan tubuh, yang menyediakan perlindungan dari berbagai kuman patogen yang masuk melalui saluran cerna. Karena itu, manipulasi mikroflora usus merupakan target terapi yang atraktif untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam memerangi berbagai penyakit infeksi.”

PENELITIAN KE-6 (Menekan Inflamasi/Peradangan)
MOLEKUL HIDROGEN MENEKAN PERADANGAN USUS BESAR YANG DIINDUKSI OLEH DEXTRAN SODIUM SULFATEBiochem

Biophys Res Commun. 2009. Kajiya M et al. Hydrogen mediates suppression of colon inflammation induced by dextran sodium sulfate.

Melalui efek antioksidannya, molekul hidrogen (H2) dilaporkan dapat melindungi berbagai organ dari kerusakan jaringan akibat kekurangan oksigen pada proses reperfusi (ischemia reperfusion). Untuk melihat efek anti-inflamasi (anti radang) nya, dilakukan penelitian pada binatang percobaan dengan penyakit IBD (Inflamatory Bowel Disease).

Hasil & Kesimpulan:
1. Pada akhir percobaan, pemberian molekul hidrogen mampu secara bermakna memperbaiki penurunan berat badan, peningkatan skor kolitis, pemendekan panjang usus besar, dan peningkatan level pro-inflamasi.
2. Analisis jaringan histologi juga menunjukkan bahwa molekul hidrogen dapat menekan secara bermakna kerusakan jaringan dan infiltrasi makrofag (sel radang).
3. Molekul hidrogen dapat mencegah berkembangnya peradangan usus besar pada binatang percobaan.

PENELITIAN KE-7 (Menekan Inflamasi/Peradangan)
EFEK ANTI-INFLAMASI CAIRAN HIDROGEN PADA MAKROFAG DAN RADANG KAKI BINATANG PERCOBAAN

J Inflamm (Lond). 2012. Xu Z, et al. Anti-inflammation effects of hydrogen saline in LPS activated macrophages and carrageenan induced paw oedema.

Stress oksidatif memegang peranan penting dalam proses peradangan (inflamasi). Molekul hidrogen mempunyai efek menetralisir radikal bebas, namun untuk mengetahui efek anti-inflamasinya, dilakukan penelitian pada makrofag (sel radang) dan kaki tikus percobaan yang mengalami edema (bengkak).

Hasil & Kesimpulan:
1. Semua parameter inflamasi mulai ukuran kaki, infiltrasi netrofil (sel darah putih), dan kadar berbagai mediator inflamasi bisa diperbaiki dengan pemberian cairan hidrogen.
2. Cairan kaya hidrogen menunjukkan efek proteksi terhadap inflamasi (peradangan) dan dapat menjadi pendekatan terapi baru pada berbagai penyakit inflamasi.

PENELITIAN KE-8:
EFEK ASAM KUAT DARI MESIN ELEKTROLISIS TERHADAP INFEKSI

1. Para perancang mesin elektrolisis penghasil air alkali terionisasi ini menyadari bahwa dengan mesin ini, selain dapat menghasilkan air alkali, mereka mampu memproduksi air dengan pH berapa pun yang mereka inginkan.

2. Dari mesin ini dapat dihasilkan air yang sifatnya sangat asam, misalnya air dengan pH 2.5 (atau dikenal secara medis sebagai Strong Electrolyzed Oxydizing Water). Berbeda dengan air alkali, air dengan pH 2.5 sifatnya sangat asam dan mengandung radikal bebas (pro-oksidan) dalam jumlah yang sangat tinggi, sehingga tidak boleh diminum.

3. Karena kedua sifat ini (pH yang tinggi dan banyak mengandung radikal bebas), cairan ini memiliki kemampuan membunuh kuman yang sangat kuat. Ternyata cairan ini juga terbukti dapat mempercepat penyembuhan berbagai kelainan kulit dan jaringan lunak yang berat (seperti luka bakar stadium lanjut, psoriasis berat), hingga berbagai luka yang sulit sembuh pada pasien dengan diabetes.

4. Tapi uniknya, berbeda dengan larutan asam kuat lain yang bersifat toksik dan iritatif, asam kuat yang dihasilkan mesin elektrolisis tadi ternyata dapat digunakan dengan sangat aman pada kulit dan mukosa manusia.

5. Singkat kata, berbagai penelitian terus dilakukan untuk melihat aplikasi asam kuat ini pada berbagai bidang ilmu, mulai kedokteran, pertanian, hingga industri makanan.

6. Dasar penggunaannya di dunia kedokteran, khususnya pada pasien-pasien yang sering dijumpai di praktek sehari-hari, dipublikasikan di majalah Wounds tahun 2006 yang bisa didownload di link berikut ini: http://www.woundsresearch.com/files/docs/072706_occu.pdf

7. Para ilmuwan di Amerika, Jepang, dan Inggris ternyata telah mengembangkan teknologi yang disebut Microcyn, dengan produk asam kuat dari mesin elektrolisis, yang mereka label dengan nama Dermacyn. Di majalah setebal 19 halaman di atas, diungkap pengalaman klinis keberhasilan dan keamanan penggunaan cairan ini pada pasien-pasien dengan luka diabetes, luka pra dan pasca operasi non-diabetes, hingga kasus-kasus luka bakar derajat lanjut.

8. Lebih dalam tentang peran asam kuat pada berbagai penyakit infeksi, dan laporan kasus pengalaman kami mengelola kelainan luka kaki diabetes yang berat dengan air dari mesin elektrolisis bisa dibaca di link berikut ini:

Air Alkali/Asam Kuat pada Luka Diabetes dan Penyakit Kulit yang Berat (Laporan Kasus)
https://www.facebook.com/andipratama.dharma/posts/1790581954526580

KESIMPULAN

Dari berbagai penelitian di atas, jelas terlihat bahwa air alkali (ERW/HRW) memiliki banyak sekali manfaat dalam melawan penyakit infeksi, baik akut maupun kronis. Bila pada infeksi yang berat seperti sepsis saja manfaatnya bisa ditemukan, apalagi pada berbagai penyakit infeksi yang sering kita jumpai sehari-hari.

Manfaatnya air alkali pada proses infeksi juga sangat luas, mulai secara langsung melawan proses infeksi dan mengurangi beratnya peradangan, maupun secara tidak langsung dengan meningkatkan daya tahan tubuh.

Semoga bermanfaat

Sumber:

AIR ALKALI PADA PENYAKIT INFEKSI & MANFAATNYA DALAM MENINGKATKAN DAYA TAHAN TUBUHOleh:Andi Pratama DharmaDokter…

Dikirim oleh Andi Pratama Dharma pada 18 Oktober 2017

  1. Sejarah & Manfaat Air Alkali
  2. Sejarah & Manfaat Mesin Air Alkali Terionisasi (Situ Kok Suka Maksa Sih)
  3. Air Alkali: Penelitian Ilmiah & Testimoni Positif Dari Para Dokter
  4. Manfaat Memiliki Mesin Air Alkali Sendiri (Setidaknya, Bersyukurlah)
  5. Edukasi Air Alkali yang Penuh Rasa Hormat
  6. Air Alkali & Keluhan Akibat Asam Urat, Tekanan Darah, dan Kolesterol yang Tinggi
  7. Air Alkali: Panduan Minum & Mengelola Efek Samping
  8. Air Alkali & Stroke
  9. Air Alkali dan Penelitian di Bidang Neurologi dan Psikiatri
  10. Air Alkali pada Penyakit Rematik
  11. Air Alkali pada Penyakit Infeksi & Manfaatnya dalam Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
  12. Air Alkali untuk Olahragawan hingga Atlet Profesional
  13. Air Alkali: Pilar Kelima Diabetes
  14. Air Alkali & Insulin (Situ Kok Suka Maksa Sih Bagian ke-2)
  15. Air Alkali pada Pasien Diabetes: Sebuah Laporan Kasus
  16. Air Alkali/Asam Kuat pada Luka Diabetes dan Penyakit Kulit yang Berat (Laporan Kasus)
  17. Air Alkali pada Asam Urat & Paradigma Edukasi Air Alkali
  18. Air Alkali & Hipertensi
  19. Air Alkali pada Gangguan Ginjal
  20. Air Alkali & Batu Ginjal
  21. Air Alkali, Kanker, & Pencegahannya
  22. Air Alkali pada Penyakit Maag & GERD
  23. Air Alkali pada Asma & PPOK
  24. Air Alkali pada Penyakit Autoimun & Alergi (Pengobatan & Pencegahan)
  25. Penelitian Air Alkali pada Penyakit Autoimun & Alergi
  26. Air Alkali untuk Anak Berkebutuhan Khusus
  27. Air Alkali: Efek Anti Aging & Kesehatan Kulit
  28. Air Alkali untuk Mencegah & Mengatasi Obesitas
  29. Air Alkali & Hambatan Utama dalam Preventive Medicine
  30. Air Alkali & Pencegahan Penyakit Berat
  31. Khasiat Air Alkali cuma Bohong Belaka?
  32. Air Alkali & Penyakit Akibat Radikal Bebas
  33. Air Alkali & Bahaya Pestisida
  34. Air Alkali & Diet Ketofastosis
  35. Air Alkali & Surat untuk para Dokter
  36. Air Reverse Osmosis menurut WHO