SATU MESIN SEJUTA MANFAAT

Dapatkan kesehatan menyeluruh dengan air kangen. Ganti air minum anda dengan air kangen sekarang juga!

Miliki Segera

PENDAHULUAN

Beberapa hari yang lalu, di grup whatsapp PAPDI (Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia) cabang Jawa Barat, salah seorang internist senior dan guru kami saat menimba ilmu di Bagian Penyakit Dalam Unpad dulu, membagikan artikel ilmiah di salah satu jurnal kesehatan. Artikel ini membahas mengenai kemungkinan adanya hubungan antara gagal ginjal kronis dengan paparan pestisida dalam jangka waktu yang lama.

Berikut judul artikelnya:

Pesticide exposures and chronic kidney disease of unknown etiology: an epidemiologic review. Valcke M, et al. Enviromental Health, 2017.

https://ehjournal.biomedcentral.com/…/10.…/s12940-017-0254-0

Terinspirasi artikel di atas, tulisan ini dibuat.
Semoga bermanfaat.

PESTISIDA DI INDONESIA

Penggunaan pestisida di dunia dan Indonesia khususnya, sudah sangat luas. Para petani bisa dibilang sudah sangat tergantung dengan zat ini demi keberhasilan panennya dari tahun ke tahun.

https://www.voaindonesia.com/a/penggunaan-pest…/2440832.html

Quote:
“Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Tengah telah melakukan kampanye pengurangan penggunaan pestisida dan pupuk kimia di kalangan petani. Namun, menurut Direktur Eksekutif Walhi Jawa Tengah, Ning Fitri, upaya itu belum berhasil karena petani sudah mengalami ketergantungan luar biasa.”

RESIDU PESTISIDA DALAM MAKANAN

Residu pestisida adalah pestisida yang masih tersisa pada bahan pangan setelah diaplikasikan ke tanaman pertanian. Tingkat residu pada bahan pangan umumnya diawasi dan ditetapkan batas amannya oleh lembaga yang berwenang di berbagai negara. Paparan populasi secara umum dari residu ini lebih sering terjadi melalui konsumsi bahan pangan yang ditanam dengan perlakuan pestisida, ditanam atau diproses di tempat yang dekat dengan area berpestisida.

Senyawa kimiawi yang persisten dapat terakumulasi di dalam rantai makanan tanpa terurai, dan telah terdeteksi di berbagai produk hewan mulai dari daging sapi, daging ayam, telur ayam, dan daging ikan.

EFEK BERBAHAYA PESTISIDA BAGI KESEHATAN

Sebagai suatu radikal bebas, pestisida memiliki banyak sekali bahaya bagi kesehatan kita, dan dapat menimbulkan berbagai penyakit berat yang fatal dan mengancam jiwa.

https://en.wikipedia.org/wiki/Health_effects_of_pesticides

Menurut The Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants, 9 dari 12 bahan kimia yang paling berbahaya dan paling persisten di lingkungan adalah pestisida. Bukti-bukti yang meyakinkan menunjukkan bahwa paparan pestisida dalam waktu yang lama dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan yang berat, mulai dari kanker hingga gangguan sistem saraf, mulai gangguan fertilitas hingga kerusakan organ, mulai janin dalam kandungan hingga para lanjut usia.

RESIDU PESTISIDA: KANKER, KANKER, & KANKER

Banyak penelitian membuktikan hubungan antara paparan pestisida dengan risiko kanker, mulai kanker darah, kanker kelenjar getah bening, kanker otak, ginjal, payudara, prostat, pankreas, hati, paru-paru, dan kulit. Paparan pestisida pada ibu yang hamil meningkatkan risiko anak-anaknya kelak menderita kanker darah, ginjal, dan otak.

Ingatkah Kita?
Sekitar 30-40 tahun yang lalu, jarang sekali ditemukan anak-anak yang menderita kanker. Saat ini, di Indonesia saja telah berdiri Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia. Anak-anak usia belasan tahun, kadang di bawah 10 tahun dirawat di rumah sakit rujukan dan telah menderita berbagai jenis kanker yang mengancam jiwa. Apakah hal ini berhubungan, langsung atau tidak langsung, sedikit atau banyak, dengan konsumsi produk makanan berpestisida sejak mereka kecil?

RESIDU PESTISIDA: KELAINAN SARAF & REPRODUKSI

Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa paparan pestisida menyebabkan berbagai kelainan saraf dan otak, keguguran berulang, kematian janin dan gangguan pertumbuhan janin, berat badan lahir rendah, dan gangguan tumbuh kembang pada anak.

Ingatkah Kita?
Sekitar 30-40 tahun yang lalu, jarang sekali ditemukan anak-anak berkebutuhan khusus. Saya ingat, saat bersekolah di Sekolah Dasar dulu, di seluruh sekolah kadang tidak ada satupun anak yang memiliki kebutuhan khusus. Sekarang, hampir di semua taman kanak-kanak dan sekolah dasar, kadang di tiap kelas, ada saja anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian dan terapi tersendiri. Apakah hal ini berhubungan langsung dan tidak langsung, sedikit atau banyak dengan konsumsi produk makanan berpestisida sejak mereka di dalam kandungan ibunya?

Ingatkah Kita?
Dulu, tidak aneh bila kita memiliki teman bermain yang merupakan anak ke-2 dari 7 bersaudara, atau anak bungsu dari 10 bersaudara misalnya. Sementara saat ini, banyak sekali di sekitar kita pasangan yang telah menikah bertahun-tahun namun sangat sulit untuk memiliki keturunan. Apakah hal ini berhubungan langsung dan tidak langsung, sedikit atau banyak dengan konsumsi produk makanan berpestisida dari sang suami dan sang istri sejak usia balita hingga mereka menikah?

RESIDU PESTISIDA DAN GANGGUAN KESEHATAN LAINNYA

Beberapa penelitian telah menemukan hubungan paparan pestisida dengan peningkatan risiko penyakit kulit dan penyakit paru kronis. Ditemukan juga peningkatan risiko diabetes (penyakit gula) mulai 20% hingga 200% lebih tinggi dari populasi yang tidak terpapar.

Bahkan di salah satu slide dari peneliti senior di University of Agricultural Science Sher-E-Kasmir, Nazir Ganai (gambar ke-2), terungkap bahwa efek jangka panjang pestisida berhubungan dengan kerusakan hampir di setiap organ tubuh. Mulai dari kerusakan hati, saraf, otak, organ reproduksi pria dan wanita, kandung kemih, paru-paru, kulit, dan utamanya berbagai jenis kanker di berbagai organ.

POPULASI YANG RENTAN?

Masalah pestisida ini harusnya mendapat perhatian khusus dari kita semua. Mengapa? Karena seluruh keluarga, orang tua, kakek nenek, paman bibi, dan utamanya putra-putri kita, terpapar setiap hari dengan radikal bebas dalam bentuk racun hama ini dalam jangka waktu yang lama. Terpapar setiap waktu selama belasan, bahkan puluhan tahun, malah mungkin sepanjang usia. Mulai balita enam bulan hingga lansia yang teratur mengkonsumsi beras dan sayuran/buah-buahan berpestisida.

Anak-anak diperkirakan menjadi kelompok yang paling rawan terkena paparan residu pestisida, terutama ketika paparan terjadi pada jendela perkembangan kritis (critical windows of development). Bayi dan anak-anak mengkonsumsi sejumlah besar makanan dan air relatif besar dibandingkan berat badan mereka, dan memiliki pelindung otak yang masih sangat rentan.

BAGAIMANA MENGURANGI DAMPAKNYA?

Cara terbaik untuk meminimalisir paparan residu pestisida adalah membatasi paparan dengan pestisida, sesuai rekomendasi dari American Medical Association. Salah satunya adalah dengan selalu mencuci beras serta selalu mencuci dan mengupas buah dan sayuran yang akan dimakan. Cara lain adalah dengan menanam buah dan sayuran sendiri di pekarangan rumah atau mengkonsumsi beras dan sayuran organik. Apakah hal itu sudah cukup?

Sayangnya tidak. Selain lebih sulit didapat, harga beras dan sayuran/buah organik juga lebih mahal, kadang hingga 1,5-2 kali lipat harga non-organik.

Selain itu, pertanian organik yang tidak menggunakan pestisida sintetik, tidak berarti terbebas dari residu pestisida. Pestisida dapat bersifat persisten sehingga masih bertahan di tanah (pertanian organik) hingga waktu yang sulit ditentukan. Pestisida juga dapat menjangkau kawasan pertanian organik melalui arus pestisida maupun ketika ditransportasikan.

ADAKAH SOLUSI YANG MUDAH DAN EKONOMIS?

Tentu saja ada (ya iya lah, kalo nggak ada ngapain juga nulis artikel panjang-panjang begini).

Salah satunya adalah dengan memiliki mesin elektrolisis di rumah Anda.

ASAM DAN BASA KUAT DARI MESIN ELEKTROLISIS

Sejak pertama kali dibuat di Jepang tahun 1960-an, mesin elektrolisis mulai mendapat persetujuan dari Departemen Kesehatan Jepang tahun 1966. Sejak saat itu, jutaan penduduk Jepang telah menggunakan mesin ini dalam kehidupan mereka sehari-hari hingga sekarang.

Para perancang mesin ini, menemukan bahwa selain dapat menghasilkan air alkali, dengan mesin elektrolisis ini mereka juga dapat memproduksi air dengan pH yang sangat tinggi dan pH yang sangat rendah.

Dari mesin ini dapat dihasilkan air yang sifatnya sangat asam dengan pH 2.5 (atau dikenal secara medis sebagai Strong Electrolyzed Oxydizing Water atau Strong Acid Water), dan air yang bersifat sangat basa dengan pH 11.5 (Strong Electrolyzed Reduced Water atau Strong Alkaline Water).

Ternyata, salah satu manfaat dari air dengan pH yang sangat rendah dan sangat tinggi ini adalah untuk melarutkan pestisida dari sayuran, buah-buahan, dan beras yang akan kita konsumsi. Masih belum percaya? Check it out.

PENELITIAN KE-1:
Reduction of pesticide residues on fresh vegetables with electrolyzed water treatment. Hao J et al. J Food Sci. 2011

SUMMARY:
Degradation of the three pesticides commonly used as broad-spectrum insecticides in pest control by electrolyzed water was investigated. High-residual levels had been detected in vegetables. RESULT: Electrolyzed oxidizing (EO) water (pH 2.3 oxidation-reduction potential [ORP]: 1170 mV) and the electrolyzed reducing (ER) water (pH 11.6, ORP: -860 mV) can reduce the pesticide residues effectively. Pesticide residues on fresh spinach after 30 min of immersion in electrolyzed water reduced acephate by 74% (EO) and 86% (ER), omethoate by 62% (EO) and 75% (ER), DDVP by 59% (EO) and 46% (ER), respectively. The efficacy of was found to be better than that of using tap water or detergent (both were reduced by more than 25%). Using EO or ER water to wash the vegetables did not affect the contents of Vitamin C, which inferred that the applications of EO or ER water to wash the vegetables would not result in loss of nutrition.

KESIMPULAN:
Residu tiga jenis pestisida pada bayam segar berkurang secara bermakna (mulai 46% hingga 86%) dengan menggunakan air dengan pH 11.6 dan pH 2.3, dan terbukti lebih baik dibandingkan menggunakan air ledeng atau detergen (yang hanya berkurang sekitar 25%). Penggunaan air elektrolisis tidak mempengaruhi kadar vitamin C dalam sayuran, sehingga disimpulkan bahwa penggunaannya tidak akan mengurangi kandungan nutrisi dalam sayuran yang dicuci.

PENELITIAN KE-2:
Removal of six pesticide residues in cowpea with alkaline electrolysed water. Han Y, et al. J Science and Food Agriculture, 2016.

SUMMARY:
Reduction of six pesticide residues in cowpea by alkaline electrolysed water (AlEW) solutions with different pH was investigated. Results showed that the removal effect of AlEW solution was superior to tap water, 5% sodium chloride, 5% sodium carbonate and 5% acetic acid solution. AlEW with pH 12.2 had more potential to eliminate the six pesticides in cowpeas. Moreover, the reduction of pesticide residues gradually increased with the increase of washing time. This study demonstrated that AlEW solution with pH of 12.2 could be used to reduce pesticide residues on fresh cowpea samples.

KESIMPULAN:
Air dengan pH tinggi (12.2) dapat digunakan untuk mengurangi residu pestisida pada kacang tunggak (buah cowpea), dan lebih baik dibandingkan air ledeng, larutan garam, larutan natrium bikarbonat, dan larutan asam asetat.

DEMONSTRASI AIR ALKALI PADA PESTISIDA

Bila ingin melihat demonstrasi yang memperlihatkan pengaruh pemberian air alkali dengan pH yang tinggi terhadap pestisida, silakan klik di link berikut ini:

https://www.facebook.com/sarah.nurjanah.75/posts/10207513652040038

PENUTUP
Dengan memiliki mesin elektrolisis, kita dapat memproduksi air dengan pH sangat tinggi (atau sangat rendah) untuk mencuci makanan agar mengurangi kandungan pestisidanya secara bermakna.

Sisa pestisida yang masih ada, walaupun masih memiliki sifat radikal bebas, dapat dinetralisir dengan teratur minum air alkali (pH 8.5 hingga 9.5). Air alkali, saat baru diproduksi langsung dari mesinnya, memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi, yang dapat mengikat tidak hanya pestisida, tetapi berbagai radikal bebas lain yang masuk ke tubuh kita dan keluarga tercinta.

Antioksidan dari mesin elektrolisis, selain dapat meningkatkan potensi antioksidan lain, juga memiliki enam keunggulan dibandingkan antioksidan lain yang biasa kita konsumsi.

Dengan memiliki mesin elektrolisis sendiri di rumah, berarti Anda telah memiliki mesin penghasil air alkali sendiri, mesin penghasil antioksidan pribadi, dan mesin pencuci produk berpestisida ekslusif hingga 20-25 tahun yang akan datang.

Semoga bermanfaat.

Sumber:

  1. Sejarah & Manfaat Air Alkali
  2. Sejarah & Manfaat Mesin Air Alkali Terionisasi (Situ Kok Suka Maksa Sih)
  3. Air Alkali: Penelitian Ilmiah & Testimoni Positif Dari Para Dokter
  4. Manfaat Memiliki Mesin Air Alkali Sendiri (Setidaknya, Bersyukurlah)
  5. Edukasi Air Alkali yang Penuh Rasa Hormat
  6. Air Alkali & Keluhan Akibat Asam Urat, Tekanan Darah, dan Kolesterol yang Tinggi
  7. Air Alkali: Panduan Minum & Mengelola Efek Samping
  8. Air Alkali & Stroke
  9. Air Alkali dan Penelitian di Bidang Neurologi dan Psikiatri
  10. Air Alkali pada Penyakit Rematik
  11. Air Alkali pada Penyakit Infeksi & Manfaatnya dalam Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
  12. Air Alkali untuk Olahragawan hingga Atlet Profesional
  13. Air Alkali: Pilar Kelima Diabetes
  14. Air Alkali & Insulin (Situ Kok Suka Maksa Sih Bagian ke-2)
  15. Air Alkali pada Pasien Diabetes: Sebuah Laporan Kasus
  16. Air Alkali/Asam Kuat pada Luka Diabetes dan Penyakit Kulit yang Berat (Laporan Kasus)
  17. Air Alkali pada Asam Urat & Paradigma Edukasi Air Alkali
  18. Air Alkali & Hipertensi
  19. Air Alkali pada Gangguan Ginjal
  20. Air Alkali & Batu Ginjal
  21. Air Alkali, Kanker, & Pencegahannya
  22. Air Alkali pada Penyakit Maag & GERD
  23. Air Alkali pada Asma & PPOK
  24. Air Alkali pada Penyakit Autoimun & Alergi (Pengobatan & Pencegahan)
  25. Penelitian Air Alkali pada Penyakit Autoimun & Alergi
  26. Air Alkali untuk Anak Berkebutuhan Khusus
  27. Air Alkali: Efek Anti Aging & Kesehatan Kulit
  28. Air Alkali untuk Mencegah & Mengatasi Obesitas
  29. Air Alkali & Hambatan Utama dalam Preventive Medicine
  30. Air Alkali & Pencegahan Penyakit Berat
  31. Khasiat Air Alkali cuma Bohong Belaka?
  32. Air Alkali & Penyakit Akibat Radikal Bebas
  33. Air Alkali & Bahaya Pestisida
  34. Air Alkali & Diet Ketofastosis
  35. Air Alkali & Surat untuk para Dokter
  36. Air Reverse Osmosis menurut WHO