SATU MESIN SEJUTA MANFAAT

Dapatkan kesehatan menyeluruh dengan air kangen. Ganti air minum anda dengan air kangen sekarang juga!

Miliki Segera

Latar belakang dan sejarah penggunaan cairan yang diproduksi mesin elektrolisis pada berbagai lesi kulit dan luka di berbagai anggota tubuh, mulai dari luka pada diabetes, luka bakar, penyakit kulit yang luas (psoriasis, eritema multiforme dsb), sedikit berbeda dibandingkan penggunaan air alkali.

Para perancang mesin ini dalam upayanya memproduksi air dengan karakteristik seperti air zam-zam dan air-air suci / ajaib lain di berbagai belahan dunia (natural reduced water), menyadari bahwa dengan mesin elektrolisis ini, selain dapat menghasilkan air alkali, mereka mampu memproduksi air dengan pH berapa pun yang mereka inginkan (gambar 1).

Dari mesin ini dapat dihasilkan air yang sifatnya sangat asam, misalnya air dengan pH 2.5 (atau dikenal secara medis sebagai Strong Electrolyzed Oxydizing Water). Berbeda dengan air alkali, air dengan pH 2.5 sifatnya sangat asam dan mengandung radikal bebas (pro-oksidan) dalam jumlah yang sangat tinggi, sehingga tidak boleh diminum. Karena kedua sifat ini, cairan ini memiliki kemampuan membunuh kuman yang sangat kuat, dan ternyata juga terbukti dapat mempercepat penyembuhan berbagai kelainan kulit yang berat (seperti luka bakar stadium lanjut, psoriasis berat), hingga berbagai luka yang sulit sembuh pada pasien dengan diabetes.

Tapi uniknya, berbeda dengan larutan asam kuat lain yang bersifat toksik dan iritatif, asam kuat yang dihasilkan mesin elektrolisis tadi ternyata dapat digunakan dengan sangat aman pada kulit dan mukosa manusia.

Singkat kata, berbagai penelitian terus dilakukan untuk melihat aplikasi asam kuat ini pada berbagai bidang ilmu, mulai kedokteran, pertanian, hingga industri makanan.

Dasar penggunaannya di dunia kedokteran, khususnya pada pasien-pasien yang sering dijumpai di praktek sehari-hari, saya temukan di majalah Wounds tahun 2006 (gambar 2 hingga 5). Bila teman-teman tertarik membacanya, bisa didownload di link berikut ini:

http://www.woundsresearch.com/files/docs/072706_occu.pdf

Para ilmuwan di Amerika, Jepang, dan Inggris ternyata telah mengembangkan teknologi yang disebut Microcyn, dengan produk asam kuat dari mesin elektrolisis, yang mereka label dengan nama Dermacyn. Di majalah setebal 19 halaman ini, diungkap pengalaman klinis keberhasilan dan keamanan penggunaan cairan ini pada pasien-pasien dengan luka diabetes, luka pra dan pasca operasi non-diabetes, hingga kasus-kasus luka bakar derajat lanjut.

Dua laporan kasus di bawah ini merupakan pengalaman saya mengelola pasien dengan luka diabetes yang berat dan kelainan kulit yang luas dan kronis.

LAPORAN KASUS 1:

Seorang wanita, 65 tahun, menderita diabetes lebih dari 10 tahun, gula darahnya sering tinggi, berobat dan kontrol tidak teratur. Satu bulan yang lalu, tanpa disadari, kakinya digigit tikus, sehingga timbul luka yang bernanah. Pasien sudah berobat ke banyak klinik, baik rawat jalan maupun rawat inap, dan dilakukan perawatan luka dengan berbagai cara, tapi luka malah bertambah parah. Akhirnya pasien dirawat di ruang VIP RS Swasta tempat saya praktek di Karawang. Foto lukanya dapat dilihat di gambar 6 dan 7.

Setelah melihat lukanya, rasa pesimis muncul, “Wah, ini sih pasti ujung-ujungnya konsul bedah, harus didebridement di ruang operasi”, ujar saya dalam hati.

Dari pengalaman kasus-kasus luka diabetes sebelumnya, bahkan luka yang lebih ringan dari luka di atas saja, walaupun mendapat antibiotik yang mahal berspektrum luas, penyembuhannya sangat sulit dan lama. Keluarga pasien sebenarnya siap untuk dilakukan tindakan operasi, namun sang pasien menolak mentah-mentah karena sangat takut dioperasi, walau telah dijelaskan panjang lebar mengenai penyakitnya ini.

Akhirnya saya mencoba merawat lukanya dengan menggunakan cairan pH 2.5 sesuai literatur di atas. Tidak ada prosedur yang luar biasa. Saya instruksikan lukanya dibersihkan, ganti perban dan betadine sehari dua kali, tapi sebelum dibersihkan, luka direndam sekitar 10 menit dalam cairan asam kuat tersebut.

Sedikit berbeda dengan literatur di atas, sebelum direndam cairan pH 2.5, saya instruksikan lukanya direndam terlebih dahulu dengan cairan pH 11.5 (basa kuat, yang juga dapat diproduksi oleh mesin yang sama) selama 10 menit. Dasar penggunaan basa kuat ini saya peroleh dari pengalaman klinis di buku salah seorang dokter di Amerika, Dave Carpenter (gambar 8, pdf-nya dapat didownload dengan mudah di internet).

Cairan dengan pH 11.5 itu, yang juga tidak boleh dikonsumsi, memiliki sifat sangat basa, mengandung antioksidan dalam jumlah yang besar, memiliki sifat mengikat kuat lemak, dan mampu mengurangi nyeri dan peradangan. Dokter Carpenter sering menggunakan cairan ini sebagai kompres untuk lutut yang nyeri dan bengkak pada pasien-pasien osteoarthritis yang berobat di kliniknya di Idaho Amerika Serikat.

Terlihat dari gambar luka di atas, banyak sekali pus/debris (lemak) dan jaringan mati. Pasien juga merasa nyeri di daerah luka, walaupun nyerinya tidak sehebat dan tidak proporsional dengan berat lukanya, khas pasien diabetes yang sudah mengalami komplikasi mikroangiopati dan neuropati perifer.

Pasien datang siang hari, perawatan luka pertama dimulai sore harinya. Saya minta perawat ruangan mengirim foto lukanya besok paginya, setelah dua kali direndam air pH 11.5 dan pH 2.5. Ini foto lukanya setelah dua kali perendaman (Gambar 9 dan 10).

Setelah melihat perbaikan yang signifikan setelah baru dirawat satu hari saja, pasien dan keluarganya sangat senang dan sumringah luar biasa. Saya sih pura-pura cool aja, pasang tampang “biasa aja kalee”, walaupun sebenarnya takjub juga.

Perawatan luka dilanjutkan dua kali sampai hari ke-4, dan di hari ke-5 pasien sudah boleh pulang, tanpa sekalipun konsul ke dokter bedah. Perawatan luka dengan cairan pH 2.5 dan 11.5 dilanjutkan di rumah, dan pasien saya anjurkan minum air alkali pH 9.5 secara teratur.

Saat terakhir kontrol 1 bulan setelah pulang perawatan, di daerah luka sudah terbentuk jaringan baru, yang akhirnya sembuh sempurna dalam waktu sekitar 2 bulan. Keluarganya ngefans berat sama saya sampe sekarang, dan pasien masih sering kontrol ke Klinik Khusus Penyakit Dalam Interna Medika Karawang. Kadar gula darah dan HbA1C-nya pun terkontrol dengan baik, hanya dengan minum air alkali secara teratur plus satu obat antidiabetes dengan dosis terkecil. Akhirnya pasien dan keluarganya pun hidup bahagia selamanya.

LAPORAN KASUS KE-2

Kasus kedua pada pasien dengan gangguan kulit berat yang saya sendiri belum tahu apa nama penyakitnya. Tadinya bila pengobatannya tidak sukses, rencananya akan langsung saya konsulkan ke dokter spesialis kulit. Pasien ini dikirim seorang dokter umum di Karawang. Sebelumnya Dokter tersebut bilang, “Dok, nanti saya mau kirim pasien yah, pusing saya ngobatinnya. Aneh sekali penyakitnya. Kulit tangan dan kakinya terkelupas, dan sakit sekali katanya. Tapi hanya di kaki dan tangan saja, di tempat lain tidak ada. Sudah sebulan terakhir saya terapi, mulai pemberian steroid topikal, macam-macam obat nyeri, sampai steroid oral dosis tinggi, tapi tetap tidak ada perbaikan.”

Saya sempat bilang, “Kalau yang berat kelainan kulitnya sih, rujuk ke Spesialis Kulit dulu kalee.” Tapi pasiennya tetap dirujuk dulu ke klinik saya pagi hari di tanggal 12 Desember 2016.

Seorang laki-laki, 63 tahun, datang dengan keluhan kedua tangan dan kakinya terkelupas dan terasa sangat nyeri, panas, dan perih. Sudah lebih dari 3 bulan keluhan ini dirasakan, berobat ke beberapa dokter umum, tapi tidak ada perbaikan sama sekali. Dari pemeriksaan tidak didapatkan diabetes, hipertensi, atau penyakit berat lain. Pemeriksaan fisik dan laboratorium masih dalam batas normal.

Ini foto kulit tangan dan kakinya sebelum terapi dimulai (gambar 11 dan 12).

Sebelum memberi resep, saya wanti-wanti ke pasiennya, “Pak, ini jenis kelainannya saya belum terlalu yakin yah, soalnya penyakitnya jarang. Saya resepkan obat minum untuk nyerinya, cairan untuk merendam tangan dan kaki, dan cairan khusus untuk minum sehari-hari. Bapak kontrol empat hari lagi, bila belum ada perbaikan, akan saya konsulkan ke spesialis kulit yah.”
Empat hari kemudian, pasien dan keluarganya kontrol, masuk ruang praktek saya dengan sumringah, sambil menunjukkan tangan dan kakinya yang sudah bebas nyeri, setelah berbulan-bulan berobat tanpa banyak perubahan.
Ini foto tangannya (gambar 13 dan 14. Saya lupa mendokumentasi foto kakinya, tapi hasilnya mirip seperti tangannya).

Dan akhirnya si bapak dan keluarganya pulang dan hidup bahagia selamanya.

Demikian laporan dua kasus menarik penggunaan cairan asam dan basa kuat pada berbagai kasus yang sering ditemui pada praktek sehari-hari. Semoga bermanfaat, laporan selesai.

DAFTAR PUSTAKA

Hobson RW 2nd, Lynch TG, Jamil Z, et al. Results of revascularization and amputation in severe lower extremity ischemia: a five-year clinical experience. J Vasc Surg. 1985;2(1):174–185.

Park H, Hung YC, Kim C. Effectiveness of electrolyzed water as a sanitizer for treating different surfaces. J Food Prot. 2002;65(8):1276–1280.

Rutala WA, Weber DJ. New disinfection and sterilization methods. Emerg Infect Dis. 2001;7(2):348–353.

Tanaka N, Tanaka N, Fujisawa T, et al. The use of electrolyzed solutions for the cleaning and disinfecting of dialyzers. Artif Organs. 2000;24(12):921–928.

Nelson D. Newer technologies for endoscop disinfection: electrolyzed acid water and disposable-component endoscope systems. Gastrointest Endosc Clin N Am. 2000;10:319–328.

Dalla Paola L, Brocco E, Senesi A, et al. Use of Dermacyn, a new antiseptic agent for the local treatment of diabetic foot ulcers. Journal of Wound Healing. 2005;2:201.

Sekiya S, Ohmori K, Harii K. Treatment of infectious skin defects or ulcers with electrolyzed strong acid aqueous solution. Artif Organs. 1997;21(1):32–38.

Ohno H, Higashidate M, Yokosuka T. Mediastinal irrigation with superoxidized water after open-heart surgery: the safety and pitfalls of cardiovascular surgical application. Surg Today. 2000; 30(11):1055–1056.

Inoue Y, Endo S, Kondo K, et al. Trial of electrolyzed strong acid aqueous solution lavage in the treatment of peritonitis and intraperitoneal abscess. Artif Organs. 1997;21(1):28–31.

Sakashita M, Iwasawa A, Nakamura Y. Antimicrobial effects and efficacy on habitually hand-washing of strong acidic electrolyzed water—a comparitive study of alcoholic antiseptics and soap and tap water. Kansenshogaku Zasshi. 2002;76(5):373–377.

Martinez-Munive A, Menedez-Skertchly A, Toiber M, et al. Super-oxidized water (Microcyn 60) for mesh hernioplasty in grossly contaminated fields: an experimental study. SE 163. Presented at the American College of Surgeons 91st Annual Clinical Congress in San Francisco, California, October 16–20, 2005.

Landa-Solis, González-Espinosa D, Guzman B, et al. Microcyn a novel super-oxidized water with neutral pH and disinfectant activity. J Hosp Infect. (2005;61(4):291–299.

Yahagi N, Kono M, Kitahara M, et al. Effect of electrolyzed water on wound healing. Artif Organs. 2000;24(12)984–987

Tanaka H, Hirakata Y, Kaku M, et al. Antimicrobial activity of superoxidized water. J Hosp Infect. 1996;34(1):43–49.

Nakae H, Inaba H. Effectiveness of electrolyzed oxidized water irrigation in a burn-wound infection model. J Trauma. 2000;49(3):511–514.

Sekiya S, Ohmori K, Harii K. Treatment of infectious skin defects or ulcers with electrolyzed strong acid aqueous solution. Artif Organs. 1997;21(1):32–38.

Landa-Solis C, Gonzalez-Espinosa D, Guzman-Soriano B, et al. Microcyn: a novel super-oxidized water with neutral pH and disinfectant activity. J Hosp Infect. 2005;61(4):291–299.

Dalla Paola L, Brocco E, Senesi A, Ninkovic S, Mericvo M, De Vido D. Use of Dermacyn, a new antiseptic agent for the local treatment of diabetic foot ulcers. J Wound Healing. 2005;2:201.

Martínez de Jesús F. A prospective, randomized, single blinded study with neutral pH-super oxydized water in diabetic patients with infected feet ulcers. Submitted 2005. Unpublished data.

Sumber:

ASAM & BASA KUAT DARI MESIN ELEKTROLISIS UNTUK LUKA DIABETES DAN LESI KULIT YANG BERAT: LAPORAN KASUSLatar belakang…

Dikirim oleh Andi Pratama Dharma pada 9 Januari 2017

  1. Sejarah & Manfaat Air Alkali
  2. Sejarah & Manfaat Mesin Air Alkali Terionisasi (Situ Kok Suka Maksa Sih)
  3. Air Alkali: Penelitian Ilmiah & Testimoni Positif Dari Para Dokter
  4. Manfaat Memiliki Mesin Air Alkali Sendiri (Setidaknya, Bersyukurlah)
  5. Edukasi Air Alkali yang Penuh Rasa Hormat
  6. Air Alkali & Keluhan Akibat Asam Urat, Tekanan Darah, dan Kolesterol yang Tinggi
  7. Air Alkali: Panduan Minum & Mengelola Efek Samping
  8. Air Alkali & Stroke
  9. Air Alkali dan Penelitian di Bidang Neurologi dan Psikiatri
  10. Air Alkali pada Penyakit Rematik
  11. Air Alkali pada Penyakit Infeksi & Manfaatnya dalam Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
  12. Air Alkali untuk Olahragawan hingga Atlet Profesional
  13. Air Alkali: Pilar Kelima Diabetes
  14. Air Alkali & Insulin (Situ Kok Suka Maksa Sih Bagian ke-2)
  15. Air Alkali pada Pasien Diabetes: Sebuah Laporan Kasus
  16. Air Alkali/Asam Kuat pada Luka Diabetes dan Penyakit Kulit yang Berat (Laporan Kasus)
  17. Air Alkali pada Asam Urat & Paradigma Edukasi Air Alkali
  18. Air Alkali & Hipertensi
  19. Air Alkali pada Gangguan Ginjal
  20. Air Alkali & Batu Ginjal
  21. Air Alkali, Kanker, & Pencegahannya
  22. Air Alkali pada Penyakit Maag & GERD
  23. Air Alkali pada Asma & PPOK
  24. Air Alkali pada Penyakit Autoimun & Alergi (Pengobatan & Pencegahan)
  25. Penelitian Air Alkali pada Penyakit Autoimun & Alergi
  26. Air Alkali untuk Anak Berkebutuhan Khusus
  27. Air Alkali: Efek Anti Aging & Kesehatan Kulit
  28. Air Alkali untuk Mencegah & Mengatasi Obesitas
  29. Air Alkali & Hambatan Utama dalam Preventive Medicine
  30. Air Alkali & Pencegahan Penyakit Berat
  31. Khasiat Air Alkali cuma Bohong Belaka?
  32. Air Alkali & Penyakit Akibat Radikal Bebas
  33. Air Alkali & Bahaya Pestisida
  34. Air Alkali & Diet Ketofastosis
  35. Air Alkali & Surat untuk para Dokter
  36. Air Reverse Osmosis menurut WHO